Jumper21’s Blog

January 19, 2009

Ratatouille

Filed under: Review FILM and MUSIC — jumper21 @ 3:30 pm

ratatouille

gue jarang banget nonton Film animasi, terakhir itu waktu sd kls 6, sekarang gw penasaran sama film Ratatouille yang beraksi di Kota Paris, hiduplah seekor tikus bernama Remy dengan keluarga tikus yang sangat banyak sekali di atap rumah wanita tua yang sangat alergi dengan tikus, ayahnya bernama django dan saudaranya bernama Emile, pada suatu hari dia menyadari bahwa dia mempunyai bakat khusus di bidang memasak, Saking gemarnya Remy pada dunia masak – memasak, dia sampai bela-belain menyelundup ke rumah seorang nenek tua untuk numpang nonton acara masak di tv. Remy mengidolakan Gusteau, seorang koki selebriti yang sering dilihatnya di acara tv.  Pada suatu hari, akibat seubah insiden yang nggak disengaja, Remy merantau ke kota dan terdampar tepat di bawah restoran bintang lima milik Gusteau. Gusteau-nya sendiri udah meninggal, dan restorannya sekarang dipimpin oleh seorang koki senior bernama Skinner.

Pada saat yang kurang lebih bersamaan, restoran Guesteau baru merekrut seorang tukang pel bernama Linguini. Baruuu…. aja diterima kerja, belum-belum Linguini udah menumpahkan sepanci besar sup. Dia mencoba menutupi kesalahannya dengan membuat sup baru, tapi Remy yang mengamati dari tempat persembunyian tau bahwa tindakan Linguini justru akan membuat rasa sup menjadi rusak. Akhirnya Remy turun tangan dan membantu Linguini memasak sup – yang ternyata disukai oleh seluruh pengunjung resto. Sayangnya, Remy tertangkap basah oleh Skinner yang langsung menjatuhkan vonis hukuman mati. Skinner memerintahkan Linguini untuk membuang Remy ke kali.

Di pinggir kali, Linguini ragu-ragu karena nggak tega membuang Remy. Akhirnya dia malah berteman dengan si tikus, dan menjalin ‘kontrak kerja’ yang saling menguntungkan. Remy membantu menaikkan pamor Linguini dengan memasak makanan enak, dan Linguini akan membantu Remy mewujudkan cita-citanya untuk jadi koki. Yang kemudian mengancam hubungan tikus – manusia ini antara lain adalah Anton Ego, seorang kritikus resto yang dijuluki “The Grim Eater” karena terkenal dengan review2nya yang sadis dan mematikan.

Komentar


Tadinya gue nggak berharap banyak dari perkembangan cerita film ini, karena (gue kira) tema besar ceritanya udah digelar semua di trailernya. Pokoknya ini film tentang tikus ajaib yang ingin jadi koki, titik. Gue nonton film ini karena ingin tau alasan kenapa si tikus sampe tertarik jadi koki, dan sedikit mengantisipasi adegan-adegan lucu yang mungkin terjadi saat si tikus sedang menjalankan tugas sebagai koki. Udah, gitu doang.

Tapi ternyata film ini jauh melebihi ekspektasi gue.

Jawaban atas pertanyaan utama gue, ‘kenapa si tikus ingin jadi koki’ diolah jadi pesan yang dalam banget. Argumen keluarga tikus: “kenapa sih elu nggak bisa bersyukur dan hidup bahagia ditakdirkan sebagai tikus” vs argumen Remy “kenapa sih kita harus membatasi cita-cita hanya karena situasi dan kondisi” dikemas dengan cerdas. Diseling dengan pertanyaan-pertanyaan kritis Remy terhadap Django si ayah seperti,

“Kenapa sih kita ini harus hidup dengan mencuri makanan?”
“Kita nggak mencuri, karena yang kita makan adalah sampah – yaitu benda yang udah nggak dibutuhkan lagi”
“Kalau memang benda itu udah nggak dibutuhkan lagi, kenapa kita harus sembunyi-sembunyi waktu mengambilnya?”

Permasalahan terus berkembang saat kemudian Linguini meraih popularitas sebagai koki jagoan – padahal dia nggak bisa apa-apa karena selama ini yang menggerakkan tangannya adalah Remy si tikus. Ketika penghargaan dan pujian semuanya terarah buat Linguini, lantas siapa memanfaatkan siapa? Apakah Linguini yang memanfaatkan Remy untuk mencapai popularitas? Atau Remy yang telah menjadikan Linguini sekedar sebagai boneka, alat mencapai ambisi pribadi sebagai koki?

Anak-anak mungkin menikmati film ini dari segi kelucuan tokoh-tokoh kartunnya (catatan buat yang ngajak anak nonton film ini: awas, ada 2 adegan ciuman!), sedangkan para penonton dewasa akan diajak sedikit merenung tentang banyak hal mendasar tentang kehidupan. Tapi jangan salah, walaupun sarat pesan moral, bukan berati film ini lantas jadi berat buat dicerna.

Soal teknik animasi, udahlah, Pixar jaminan mutu. Animasi gerakan air yang konon paling sulit dilakukan, di film ini tampil mulus sampe nggak bisa dibedain dengan air betulan. Konon untuk menciptakan efek air menempel di baju basah, salah satu tim animator Pixar bela-belain betulan nyemplung ke kolam renang dengan berbaju lengkap – supaya efek kain basah yang menempel ke kulit bisa ditiru ke dalam film. Animasi gerakan tikusnya: mulai dari gerakan jalan, lari, gerakan moncong dan kuping – semuanya  realistis banget, dan lagi-lagi ini adalah hasil observasi atas perilaku tikus betulan plus masukan dari konsultan pakar tikus. Saking realistisnya, mungkin buat yang punya phobia pada tikus bisa sedikit ‘merinding’ menyaksikan adegan koloni tikus berlarian keluar dari persembunyian.

Terakhir, yang lumayan sukses menyentil gue – yang selama ini doyan nulis review dan kritik – adalah komentar tokoh kritikus Anton Ego di salah satu adegan:

In many ways, the work of a critic is easy. We risk very little yet enjoy a position over those who offer up their work and their selves to our judgment. We thrive on negative criticism, which is fun to write and to read. But the bitter truth we critics must face is that, in the grand scheme of things, the average piece of junk is more meaningful than our criticism designating it so.

Hmmm… memang iya, ngritik itu gampang, dan saat mengkritik mau nggak mau seorang kritikus akan memposisikan dirinya di atas orang yang dia kritik. Kritik itu menghibur pembaca, dan dalam beberapa kesempatan bisa dimanfaatkan sebagai penyaluran hasrat agresif sang kritikus untuk menjatuhkan orang lain.

Pertanyaannya: apa sih karya nyata yang telah disumbangkan para kritikus kepada dunia? Apa sih yang membuat seorang kritikus berhak merasa dirinya lebih baik dari orang yang dia kritik?

sumber : http://mbot.multiply.com/reviews/item/84 dan Film : Ratatouille

2 Comments »

  1. […] Saking gemarnya Remy pada dunia masak – memasak, dia sampai bela-belain menyelun Read more: Ratatouille Tags: abg-bugil, artis, artis-bugil, artis-indonesia, artis-indonesia-bugil, artis-models, […]

    Pingback by Ratatouille | Fairy Tail Manga — January 19, 2009 @ 11:33 pm

  2. pertama dan untuk terakhir kalinya aku nonton film ini waktu kelas 3 SMA. Itupun mau ujian UN.
    ha . ha . ha .
    tapi aku benar-benar menyukai film ini, seekor tikus yang bisa masak, hampir sama mungkin dengan film lain. Aku lupa judul film’y apa, tapi ini menceritakan tentang seekor tikus yang ahli dalam rasa sebuah keju. Ia bisa membedakan mana keju yang baik mana keju yang buruk. Dan karena keahlian dia inilah, akhirnya sebuah pabrik benang milik kedua kakak-beradik yang diwariskan dari ayahnya hampir bangkrut bisa kembali hidup. Karena pabrik itu, digantikan menjadi pabrik keju yang dibentuk seperti benang woll.

    ha . ha .

    impossible.

    tapi apa yang ga mungkin di dunia ini coba. ?

    Comment by naya — January 20, 2009 @ 2:03 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: